Jumat, 03 Mei 2013

[REVIEW] Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Gambar dari Goodreads

Judul : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
Jumlah Halaman : 512

"Berapa panjang sungai kapuas ? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menuju hilir kapuas ?" , pertanyaan yang selalu Borno sampaikan kepada pengemudi sepit di hulu sungai kapuas .
"Mana kutahu, itu tidak akan ditanyakan saat ujian bukan Borno ?" ,
"Macam aku punya waktu saja mengukurnya Borno"
jawab pengemudi sepit yang tentu saja tidak memuaskan hasrat bertanya Borno.


Jawaban Pak Tua lah yang sedikitnya memberi pengetahuan bagi Borno, bahwa menuju hilir kapuas tidak mudah, tergantung perahu yang digunaka, cuaca yang sedang menyelimuti langit saat itu, keadaan sang pengemudi perahu, dll.

Mendapat jawaban itu, akhirnya Borno pun terdiam.

Sejak 6 bulan yang lalu Borno sudah menamatkan bangku SMA nya, namun ia tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi, ekonomi. Ia berganti-ganti pekerjaan , mulai dari bekerja di perkebunan karet, hingga menjadi pemotong karcis di dermaga kapal ferry. Karena pekerjaan 'rendah' itu pula, Borno tak jarang mendapat cibiran dari warga sekitar karena walaupun sudah menamatkan SMA nya, pekerjaannya tidak lebih baik dari lulusan SD/SMP. Namun, nasehat-nasehat ibunya lah yang menguatkannya untuk tidak merisaukan cibiran orang-orang tersebut, bahwa pekerjaan-pekerjaan itu tetap lebih baik daripada bekerja dengan cara yang tidak halal.



Menjadi pemotong karcis di dermaga adalah pekerjaan terakhirnya sebelum akhirnya Borno memutuskan untuk menjadi pengemudi sepit(speedboat, dibaca orang Indonesia menjadi sepit) , sama seperti pekerjaan ayahnya dahulu sebelum ayahnya meninggalkan ia dan ibunya untuk selamanya. Tidak mudah ternyata menjadi pengemudi sepit yang baik, Borno harus mengikut sesi latihan menggunakan sepit dengan Pak Tua terlebih dahulu agar keamanan saat membawa penumpang lebih terjamin.

Setelah mengikuti training , dan perpeloncoan yang dilakukan bang Togar pada dirinya, satu bulan kemudian resmilah Borno menjadi bagian dari pengemudi sepit yang siap mengantarkan warga yang akan menyebrang menuju kota. 

Semua dilakukan Borno dengan biasa saja, tidak begitu semangat juga tidak malas-malasan. Hingga suatu hari seorang gadis menumpang sepitnya untuk menyebrang ke kota, gadis cantik tentunya. Usianya kurang lebih sama dengan usia Borno sekarang, 23 tahun, dari perawakannya terlihat bahwa gadis ini merupakan keturunan China, cantik dan putih.

Pada hari pertama gadis itu menumpang sepitnya, Borno menemukan sepucuk angpau merah yang tertinggal di bangku sepitnya. "Punya siapa lagi kalau bukan punya gadis itu", pikir Borno . Saat itu pikiran Borno sudah bermacam-macam tentang isi surat itu, mungkinkah itu surat yang sengaja ditinggalkan gadis itu untuknya ? . Keesokan paginya, Borno melihat gadis itu sedang membagi-bagikan angpau kepada anak-anak SD yang ada di sekitar pangkalan sepit, angpau merah yang sama dengan yang ditemukan Borno kemarin setelah mengantarnya. "Tentu saja angpau ini isinya sama dengan angpau lainnya, sekarang kan sedang imlek, tentu saja gadis itu membagi-bagikan angpau, mungkin ini salah satu angpau yang tertinggal kemarin" , pikir Borno sesaat setelah melihat kejadian itu, urung menanyakan kelanjutan angpau yang kemungkinan berisi surat untuk orang yang penting bagi gadis itu. Setelahnya, angpau itu Borno simpan sebagai kenang-kenangan pertemuan pertama dengan gadis itu.

Untuk beberapa hari,  Gadis ini selalu duduk di bangku terdepan sepitnya , jika matahari begitu terik, ia menggunakan payung untuk menutupi silaunya cahaya matahari pagi. Borno hanya mampu memandang punggung gadis itu dari kejauhan, menyadari ketidakmungkinannya untuk bersanding dengan gadis itu, bahkan untuk berkata halo, Borno tidak berani.

Borno selalu menceritakan hari-hari yang dilaluinya pada Pak Tua, yang dengan sabar Pak Tua akan meladeninya.

"pagi bang Borno" , sapa gadis itu pada suatu pagi.
"eh , pagi ..." , jawab Borno yang belum mengetahui nama gadis itu.

Hanya itu kata yang berani Borno ucapkan kepada gadis itu .
Setelah kurang lebih satu minggu gadis itu menumpang sepitnya, selama itu pula Borno tidak mengetahui nama gadis itu, kebalikan dari Borno, Mei (nama gadis itu) sudah mengetahui nama Borno sejak pertama kali menumpang sepit Borno.

Hari dimana suasana diantara mereka cair adalah saat Borno bercerita bahwa teman ayahnya memiliki anak-anak yang dinamai dengan nama bulan-bulan dalam 1 tahun. "Bisa kau bayangkan, namanya Januari, Februari, Maret, April, Mei ,  Juni sampai desember , hahaha. Untunglah anaknya tidak lebih dari 12, kalau tidak, mau dikasih nama apa anak itu hahaha ", candaan Borno untuk mencairkan suasana hari itu. Mei, yang notabene namanya berasal dari nama bulan yang ada ada dalam tahun masehi pun merasa tersinggung, ia tidak terima dengan candaan yang dilontarkan Borno. Mei pun membalasnya dengan menjatuhkan surat di sepit Borno berisi , "baguslah punya nama dari nama-nama bulan, daripada nama Abang, Borno, yang seharusnya Borneo namun 'e' nya tertinggal. Halo bang Borno, halo Kalimantan , hai bekas sungai" . Borno yang malu dibuatnya.

Hari demi hari terus berlalu, akhirnya Borno dan Mei hubungannya semakin dekat. Borno selalu rapi mengantre sepitnya di antrean nomor 13 untuk menunggu Mei yang pasti sampai di pangkalan pukul 07.15. 

Mei merupakan mahasiswi di salah satu Universitas di Surabaya yang sedang melakukan penelitiannya di Pontianak, sebagai guru di salah satu SD disana. Sebagaimana mahasiswa yang melakukan PPL, Mei tentu harus kembali lagi ke kota asalnya, Surabaya , untuk menyelesaikan studinya. 

Untuk kali pertama, Borno benar-benar merasa kehilangan. Tidak ada lagi semangat mengantri di urutan 13, menunggu Mei yang akan datang pukul 07.15.

Bagaimana kelanjutan kisah Borno dan Mei ? Apa benar angpau yang dijatuhkan Mei di sepit Borno saat hari pertama mereka bertemu merupakan angpau yang sama dengan angpau yang Mei bagikan pada anak-anak kecil di sekitar pangkalan ?

Perjalanan masih panjang ~ 

***

Saya sendiri tidak bisa berhenti membaca novel ini sampai benar-benar menyentuh halaman terakhir. Bahasa Tere Liye yang begitu mengalir membawa saya untuk terus menyelami perjalanan Mei-Borno. Strong-Silent-Love. Yap, sejatinya perasaan tidak usah sering diumbar, salah-salah sering diumbar, membuatnya tidak terasa spesial lagi, terlebih urusan hati. 

Dan seperti novel bang Tere Liye lainnya, pelajaran hidup yang bisa diambil dari kisah Mei - Borno dari awal hingga akhir begitu berharga. Perjalanan Borno yang awalnya hanya sebagai pengemudi sepit hingga di akhir cerita Borno menjadi pemilik bengkel terkemuka di Pontianak benar-benar memberikan pelajaran hidup yang berharga.

Makna hidup, cinta, perjuangan, takdir, jatuh-bangun dalam usaha, dll bisa kita simpulkan dari cerita ini yang digiring dari awal hingga akhir. 

Juga dengan novel khasnya Tere Liye, di akhir cerita, Tere Liye meminta kita untuk menyimpulkan sendiri hasil perjalanan tokoh yang sudah dilalui. Menurut saya sih bukan 'menggantungkan' akhir cerita , lebih tepat dikatakan simpulkan sendiri akhir cerita menurut yang kamu inginkan dari perjalanan yang sudah dilalui. Bikin greget ? iya banget, sama halnya kayak waktu saya baca novelnya yang Negeri Para Bedebah, #gereget, pun dengan novel ini ga kalah greget hehehe.

Ditambah dengan pengetahuan tentang sungai kapuas dan bayangan kehidupan di Pontianak, lumayan lah buat saya yang belum pernah ke Pontianak sama sekali untuk merasakan teriknya matahari di siang bolong :D.

Worth it bngt buat dibaca, bukan novel romance gombal sana - gombal sini, life story, life advice nya dapet banget :D

happy reading ~









2 comments:

Desty Dwi Rahayu mengatakan...

Cerita bang tere yang satu ini bagus. setiap baca perbabnya memang membuat penasaran :D Buku yg sunset bersama rosie juga bagus :)

Faizah Aulia R mengatakan...

trueeee , sepakat sama tetehnya :D
iya belum sempet baca yang sunset bersama rosie, hehe
semoga segera :D

Posting Komentar

Thankyou for reading :)

 
 
Copyright © [ notulensi ]
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com