"Teh, teteh ngapain sih capek-capek kayak gini? Gak ada yang nyuruh, biaya apalagi, justru yang dikorbankan banyak, sangat banyak sekali, but WHY ? I neet that reason, WHY ?"
pertanyaan yang terlontar di dalam hati, saat melihat teh Linda memimpin rapat Silaturahim Daerah Rohis Jawa Barat di koridor timur masjid Salman saat itu. Sangat ingin tentunya untuk melontarkan pertanyaan itu secara langsung kepadanya, namun untuk sesaat saya simpan. Akhirnya, tanpa melontarkan pertanyaan itu saya terus melaksanakan bagian sebagai pencari dana untuk kegiatan ini, meskipun pertanyaan itu tetap menyala dan seolah semakin hidup untuk ditanyakan kepada beliau.
Rapat ke sekian, lagi - lagi di koridor timur Salman, pertanyaan yang sama tetap hidup. Perasaan malu, deg degan, dan lain lain masih tetap saya simpan. Namun, pada saat yang sama, ada teman yang lain yang melontarkan keletihannya, saya rasa wajar. Namun saat teh Linda menjelaskan serta memberi semangat, justru yang saya dapat adalah jawaban atas pertanyaan saya sejak awal.
Ill write in my way ya.
Kalaupun kita tidak membuat kegiatan ini, tidak membuat Silaturahim antar Rohis se Jabar, diluar sana tetap akan banyak kegiatan yang mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya. Yang bagian acara capek memikirkan konsep agar peserta tertarik ? Pun sama, diluaran sana yang membuat kegiatan yang mudharatnya lebih banyak pun sedang memikirkan konsep agar peserta tertarik datang. Yang bagian dana pesimis ketakutan mencari dana ? Siapa yang mau mendanai kegiatan ini ? Begitupun banyak kegiatan yang sedang direncanakan diluar sana. Dan lain lain untuk divisi lainnya. Tanpa kita membuat kegiatan ini, perang konsep, perang mencari dana, perang ideologi dan lain lain tetap terjadi di luar sana. Kita, istilahnya hanya ikut bertarung agar dana yang berseliweran di luar sana bisa lebih termanfaatkan ke kegiatan positif bukan sekedar hura-hura belaka. Jika yang mudharatnya lebih banyak saja Percaya Diri dengan kegiatannya, kenapa kita harus pesimis ? Ya, jalan ini, sekali lagi tidaklah mudah, tetapi bukan berarti kita harus mundur tanpa ikut bertarung.
Untuk sesaat saya tersadarkan, akhirnya saya kembali lagi semangat untuk mencari dana.
Hingga suatu titik, saya merasa down, kenapa untuk kegiatan baik sangat sulit untuk mendapatkan dana. Bukan naif, tapi semua memang butuh uang.
Saya terdiam, termenung di suatu tempat, memperhatikan hiruk - pikuk orang lalu - lalang di hadapan saya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sibuk memikirkan untuk menyambung hidupnya.
Saya sempat berpikir "segitu susahnya ya nyisihin rezeki untuk kegiatan yang baik, yang misalnya udah jelas kegiatan dan aliran dananya, tapi ketika untuk kesenangan dunia, tidak ada lagi yang dipikirkan, dana begitu saja tergulir".
Semua orang lelah untuk mencari dana untuk menyambungkan hidup.
Semua orang juga sama menghabiskan waktu yang banyak untuk mencari nafkah tersebut.
Semua orang juga kelelahan untuk melakukan hal tersebut.
Tapi ada yang dananya ia sumbangkan untuk sedekah, infaq, wakaf, dll.
Di sisi lain, juga tidak sedikit yang mentransfernya untuk kesenangan dunia, menuruti hawa nafsunya.
Tapi yang beda di akhirnya, kalau tahu tujuan di dunia ini.
Sama - sama capek, sama-sama habis waktu, sama-sama habis tenaga.
Yang satu capek, habis waktu, habis tenaga ngejar ke surga, yang lain capek, habis waktu, habis tenaga untuk ke neraka, naudzubillah.
Just yes, this is really NoteToMySelf, sangat catatan besar untuk saya pribadi.
Bukannya enggak boleh capek, ngabisin waktu, ngabisin tenaga di dunia, tapi tetep harus inget tujuannya, akhirat. Pada akhirnya, saya inget lagi kata teteh mentor "apa sih yang mau dicari, toh endingnya kita bakal mati. Bukan ngumpulin untuk didunia, tapi gunakan dunia untuk akhirat. Jadi ya kerja, capek, waktu dan tenaga yang habis, bukan untuk dunia, tapi untuk akhirat."
Bukan ngejudge siapa-siapa, atau pihak mana-mana, hanya untuk mengingatkan diri sendiri, for sure. Lebih tepatnya memotivasi diri sendiri. NO, Im not get motivate from another person. Just yeah, bermain dengan pikiran sendiri terdengar lebih asik.
Thats, semangat H-4!
Tampilkan postingan dengan label agak serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agak serius. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Oktober 2014
Rabu, 05 Maret 2014
Analogi Deadliner
AHA ! LONG TIME NO SEE MY BLOG ! HAH HIH HUH BANGET KEGIATAN SEMESTER KEMAREN MULAI DARI KULIAH, TUBES SAMPE DINAMIK ! BIKIN SUSAH NAPASS
Ah Faizah suka lebay, tapi emang hectic, ah banyak alasan. Ah ih uh mulu, kapan nulisnya ? Baiklah, sekarang saya akan mulai nulisnya.
Seperti yang sudah kita tahu (kitaa ? lo aja kaliii zah) , iya seperti yang saya tahu tentang diri saya sendiri, bahwa saya senang sekali bermain analogi. Nah sekarang analogi apalagi yang terlintas sesaat yang akan segera dibeberkan ?
Analogi Deadliner.
Saya sendiri mengakui, saya merupakan seorang deadliner, procrastinator tingkat .... bisa dibilang tingkat akut lah ya, ini jelek loh ya temen-temen yang baca ga boleh ngikutin. Ini sebenernya penyakit yang tidak baik jika disimpan berlama-lama. Ayo sembuh!
Ah OOT lagi, ya jadi saya mau bahas deadliner. Analogi ini terlintas saat sedang mengerjakan TUBES (Tugas Besar) RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) dari dosen tercinta. Kita dikasih 1 tahun untuk mengerjakan tugas ini , diberikan tanggal 3 Desember 2013, dan harus dikumpulkan tanggal 3 Januari 2014, satu tahun kan ? Iya ajalah biar cepet.
Pada minggu awal mengerjakan tubes, yang kita lakukan adalah kunjugan ke instansi yang agaknya berkaitan dengan tubesnya, analisis kebutuhan, rancang database, dan merancang fitur2 tambahan untuk mempercantik tampilan si perangkat lunak, karena kita pakenya web based, kita udah ngerancang mau pake animasi apa saat tekan tombol sana sini (padahal programnya belum ada, bahkan prototype nya, aduh zah -,-)
Rencananya, sisa 3 minggu mau dipake buat ngoding. Itu sih rencana, pada kenyataannya karena ternyata di kelompok gue isinya procrastinator semua, kita baru ngerjain di 1 minggu terakhir. Ya bisa ajasih kalo sistemnya gak kompleks. Tapi eh tapi , yang diminta bapak dosen yang katanya dulu adalah pria idaman pada masanya, banyak banget spesifikasinya. Dan kita belum ngoding apapun dari awal. Udah kelimpungan aja kita. Ditambah lagi bapak dosen tercinta minta fitur ini itu yang mainin database, udah gitu dummy datanya enggak mau sedikit. Aduh mengingat waktu itu kepala mau pecah.
Sisa 1 minggu, 3 hari pertama kita masih belum fokus pada fungsi utama yang diminta bapak, kita masih mainin riasan untuk mempercantik si perangkat lunak. Baru pada sisa 3 hari terakhir kita nyadar, ini kebutuhan fungsionalnya belum ada yang bisa dijalankan. Alhasil, 3 hari terakhir tersebut kita bener-bener fokus pada kebutuhan fungsi. Sampai jam - 3 pengumpulan, kita masih main di dummy data yang dirasa kurang, dan saat dikumpulkan akhirnya kebutuhan fungsional seperti yang bapak yang katanya dulu pria idaman ini selesai, dan semuanya tersedia. Tapi eh tapi semua efek riasan yang sudah dirancang dari awal gak kepake brooh, kita ga sempet mainin jquery dll untuk mempercantik perangkat lunak kita. we got no time. Saat itu kita udah rada uring-uringan, karena yang lain mah cantik-cantik tugasnya, kita mah cuman pake css doang, yaudahlah pasrah *curhat*
Sampai akhirnya keluarlah nilai dari tubes RPL itu, sesuatu yang amazing, 3 hari tanpa tidur itu berbuah hasil yg subhanallah. Lalu si gue ekhem2 cek sana sini yang perangkat lunaknya cantik, saya pikir mereka dapet nilai yg bagus juga, berhubung keren. Eh tapi, ternyata mereka fungsi utamanya nggak semua jalan, jadi apa yg diminta bapak dosen nggak semua ada.
Disaat itu gue merasa bersyukur banget fokus di fungsi utama, walaupun telat nyadarnya baru h-3 pengumpulan dan ngerjain tanpa tidur, tapi kebutuhan fungsi utama yang diinginkan bapa semuanya adaaa hah hih huh.
Nah itu deadliner
Mari bandingkan dengan yang ngikutin timelinenya dengan benar.
Mungkin 1 minggu pertama analisisis, rancang database, bikin prototype dll. Dan jika mengikuti deadlinenya dengan benar, makan programnya yang dibuat dalam waktu 3 minggu sudah lengkap dengan kebutuhan fungsional ditambah riasan untuk mempercantik perangkat lunaknya. Ya gak heran, karena mereka masih punya banyak waktu untuk mempercantik, jangan dibandingin sama yang deadliner, udah syukur masih kebuat itu kebutuhan fungsionalnya *curhat lagi -_-*
analoginya apa zah ? mana analoginya ?
iye iye sabar
saya mau menganalogikan dengan *ekhm* pernikahan
Buat pribadi yang udah tau tujuan pernikahan itu apa, dia pasti fokus dengan tujuan. Kalu diibaratkan dengan ngerjain tubes itu tadi , dia fokus dengan 'kebutuhan fungsional' dari software tersebut. Mengikut semua alur timeline, mulai dari memperbaiki diri, dll. Dan akhirnya sampailah pada menyelesaikan tahap 'kebutuhan fungsional' , nah yang sudah selesai ini yang udah tau tujuannya yang dibilang mengalami akselerasi untuk menikah meskipun masih di usia muda.
Sedangkan yang deadliner, awalnya belum fokus pada tujuan atau 'kebutuhan fungsional' , masih asik bermain-main dengan hal-hal yang tidak terlalu vital walaupun menunjang. Pada suatu saat dia sudah capek dengan hal main-main itu barulah menyadari akan tujuan utama atau 'kebutuhan fungsional' nya itu, saat itu barulah dia fokus untuk mengejar itu. Telat ? Enggak, hanya saja berarti butuh waktu lagi untuk belajar ketertinggalan.
Lalu yang mengalami 'akselerasi' untuk tahap 'kebutuhan fungsional' kan sudah selesai nih dengan hal-hal vital, untuk hal-hal yang mendukunya bisa diibaratkan sebagai bonus.
Gausah dimisalkan lah ya, bisa lah dimisalkan tanpa dikasih contoh :p
AAK ini lagi - lagi analogi abal-abal yang dituliskan di blog ini, jangan percaya spenuhnya, percaya mah sama Allah aja heheheh. Semoga bermanfaat (semoga ada manfaatnya) , bye.
#night
Ah Faizah suka lebay, tapi emang hectic, ah banyak alasan. Ah ih uh mulu, kapan nulisnya ? Baiklah, sekarang saya akan mulai nulisnya.
Seperti yang sudah kita tahu (kitaa ? lo aja kaliii zah) , iya seperti yang saya tahu tentang diri saya sendiri, bahwa saya senang sekali bermain analogi. Nah sekarang analogi apalagi yang terlintas sesaat yang akan segera dibeberkan ?
Analogi Deadliner.
Saya sendiri mengakui, saya merupakan seorang deadliner, procrastinator tingkat .... bisa dibilang tingkat akut lah ya, ini jelek loh ya temen-temen yang baca ga boleh ngikutin. Ini sebenernya penyakit yang tidak baik jika disimpan berlama-lama. Ayo sembuh!
Ah OOT lagi, ya jadi saya mau bahas deadliner. Analogi ini terlintas saat sedang mengerjakan TUBES (Tugas Besar) RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) dari dosen tercinta. Kita dikasih 1 tahun untuk mengerjakan tugas ini , diberikan tanggal 3 Desember 2013, dan harus dikumpulkan tanggal 3 Januari 2014, satu tahun kan ? Iya ajalah biar cepet.
Pada minggu awal mengerjakan tubes, yang kita lakukan adalah kunjugan ke instansi yang agaknya berkaitan dengan tubesnya, analisis kebutuhan, rancang database, dan merancang fitur2 tambahan untuk mempercantik tampilan si perangkat lunak, karena kita pakenya web based, kita udah ngerancang mau pake animasi apa saat tekan tombol sana sini (padahal programnya belum ada, bahkan prototype nya, aduh zah -,-)
Rencananya, sisa 3 minggu mau dipake buat ngoding. Itu sih rencana, pada kenyataannya karena ternyata di kelompok gue isinya procrastinator semua, kita baru ngerjain di 1 minggu terakhir. Ya bisa ajasih kalo sistemnya gak kompleks. Tapi eh tapi , yang diminta bapak dosen yang katanya dulu adalah pria idaman pada masanya, banyak banget spesifikasinya. Dan kita belum ngoding apapun dari awal. Udah kelimpungan aja kita. Ditambah lagi bapak dosen tercinta minta fitur ini itu yang mainin database, udah gitu dummy datanya enggak mau sedikit. Aduh mengingat waktu itu kepala mau pecah.
Sisa 1 minggu, 3 hari pertama kita masih belum fokus pada fungsi utama yang diminta bapak, kita masih mainin riasan untuk mempercantik si perangkat lunak. Baru pada sisa 3 hari terakhir kita nyadar, ini kebutuhan fungsionalnya belum ada yang bisa dijalankan. Alhasil, 3 hari terakhir tersebut kita bener-bener fokus pada kebutuhan fungsi. Sampai jam - 3 pengumpulan, kita masih main di dummy data yang dirasa kurang, dan saat dikumpulkan akhirnya kebutuhan fungsional seperti yang bapak yang katanya dulu pria idaman ini selesai, dan semuanya tersedia. Tapi eh tapi semua efek riasan yang sudah dirancang dari awal gak kepake brooh, kita ga sempet mainin jquery dll untuk mempercantik perangkat lunak kita. we got no time. Saat itu kita udah rada uring-uringan, karena yang lain mah cantik-cantik tugasnya, kita mah cuman pake css doang, yaudahlah pasrah *curhat*
Sampai akhirnya keluarlah nilai dari tubes RPL itu, sesuatu yang amazing, 3 hari tanpa tidur itu berbuah hasil yg subhanallah. Lalu si gue ekhem2 cek sana sini yang perangkat lunaknya cantik, saya pikir mereka dapet nilai yg bagus juga, berhubung keren. Eh tapi, ternyata mereka fungsi utamanya nggak semua jalan, jadi apa yg diminta bapak dosen nggak semua ada.
Disaat itu gue merasa bersyukur banget fokus di fungsi utama, walaupun telat nyadarnya baru h-3 pengumpulan dan ngerjain tanpa tidur, tapi kebutuhan fungsi utama yang diinginkan bapa semuanya adaaa hah hih huh.
Nah itu deadliner
Mari bandingkan dengan yang ngikutin timelinenya dengan benar.
Mungkin 1 minggu pertama analisisis, rancang database, bikin prototype dll. Dan jika mengikuti deadlinenya dengan benar, makan programnya yang dibuat dalam waktu 3 minggu sudah lengkap dengan kebutuhan fungsional ditambah riasan untuk mempercantik perangkat lunaknya. Ya gak heran, karena mereka masih punya banyak waktu untuk mempercantik, jangan dibandingin sama yang deadliner, udah syukur masih kebuat itu kebutuhan fungsionalnya *curhat lagi -_-*
analoginya apa zah ? mana analoginya ?
iye iye sabar
saya mau menganalogikan dengan *ekhm* pernikahan
Buat pribadi yang udah tau tujuan pernikahan itu apa, dia pasti fokus dengan tujuan. Kalu diibaratkan dengan ngerjain tubes itu tadi , dia fokus dengan 'kebutuhan fungsional' dari software tersebut. Mengikut semua alur timeline, mulai dari memperbaiki diri, dll. Dan akhirnya sampailah pada menyelesaikan tahap 'kebutuhan fungsional' , nah yang sudah selesai ini yang udah tau tujuannya yang dibilang mengalami akselerasi untuk menikah meskipun masih di usia muda.
Sedangkan yang deadliner, awalnya belum fokus pada tujuan atau 'kebutuhan fungsional' , masih asik bermain-main dengan hal-hal yang tidak terlalu vital walaupun menunjang. Pada suatu saat dia sudah capek dengan hal main-main itu barulah menyadari akan tujuan utama atau 'kebutuhan fungsional' nya itu, saat itu barulah dia fokus untuk mengejar itu. Telat ? Enggak, hanya saja berarti butuh waktu lagi untuk belajar ketertinggalan.
Lalu yang mengalami 'akselerasi' untuk tahap 'kebutuhan fungsional' kan sudah selesai nih dengan hal-hal vital, untuk hal-hal yang mendukunya bisa diibaratkan sebagai bonus.
Gausah dimisalkan lah ya, bisa lah dimisalkan tanpa dikasih contoh :p
AAK ini lagi - lagi analogi abal-abal yang dituliskan di blog ini, jangan percaya spenuhnya, percaya mah sama Allah aja heheheh. Semoga bermanfaat (semoga ada manfaatnya) , bye.
#night
Tag
agak serius,
analogi,
ceritanya kuliah,
opini
Minggu, 15 September 2013
Perempuan dan Kepastian
![]() |
| gambar dari sini |
Kita (khususnya saya) sering sekali mendengar bahwa yang perempuan inginkan adalah sebuah kepastian. Entah itu dalam kasus apa, namun menurut saya dalam banyak kasus, dalam hal ini tidak melulu tentang hatinya, Pangeran mana yang nantinya akan memberikan kepastian padanya tanpa banyak kata.
Baru saja hari ini saya dan beberapa teman saya (lebih tepatnya teteh2) membicarakan tentang hal ini. Namun maaf kita tidak mengambil contoh masalah hati.
Teman-teman pasti pernah bekerja sama dalam hal apapun dengan perempuan, baik dalam hal kuliah, akademik, organisasi dll. Tau kenapa perempuan begitu cerewet ini itu ? Pasti ga jarang menemukan tipe perempuan yang cerewet seperti ini. Jawabannya simpel, hanya ingin kepastian.
Contoh kasus. Dalam suatu waktu di organisasi, si perempuan bertindak sebagai koordinator yang memiliki staff laki-laki dan perempuan. Oke kita ambil contoh kongkrit, anggaplah menjadi ketuplak dalam suatu kegiatan. Maka silahkan survey, perempuan ini akan menjadi sangat cerewet dan ingin serba pasti. Misalnya, sesuai timeline kita sudah memberikan deadline x dan y, maka saat tanggal itu yang si perempuan ini inginkan adalah x dan y itu sudah dikerjakan tanpa cacat.
Tag
agak serius,
agama,
artikel,
ceritanya kuliah
Jumat, 06 September 2013
Siklus
ketika ada seseorang yang berprilaku sesuatu di depan saya, baik
wajar maupun tidak, yang pasti kebayang satu hal : DI RUMAH - nya.
semua kembali ke rumah, ke keluarga, ke tempat pulang, ke tempat kembali, tempat kebahagiaan masing-masing.
Apa yang diperlihatkan diluar, ada dua kemungkinan : implementasi dari keseharian dirumahnya, atau kebalikannya, apa yang tidak bisa dia lakukan dirumahnya.
Then ? It shows how their parents educate them, sesimpel itu.
Makanya salah besar kalo pendidikan berkarakter dipaksa di sekolah dan dimulai dari SMP / SMA dengan ditambah mata pelajaran agama dll, ya merekanya juga udah anti sama hal2 gituan.
Karakter dimulai dari rumah, kekuatan iman + akidah juga dimulai dari rumah. Jadi saat dilepas, anak-anak gaakan goyah dan cari sana sini, krna udah kuat pondasinya, setidaknya untuk akidah.
Lalu ?
semua kembali ke rumah, ke keluarga, ke tempat pulang, ke tempat kembali, tempat kebahagiaan masing-masing.
Apa yang diperlihatkan diluar, ada dua kemungkinan : implementasi dari keseharian dirumahnya, atau kebalikannya, apa yang tidak bisa dia lakukan dirumahnya.
Then ? It shows how their parents educate them, sesimpel itu.
Makanya salah besar kalo pendidikan berkarakter dipaksa di sekolah dan dimulai dari SMP / SMA dengan ditambah mata pelajaran agama dll, ya merekanya juga udah anti sama hal2 gituan.
Karakter dimulai dari rumah, kekuatan iman + akidah juga dimulai dari rumah. Jadi saat dilepas, anak-anak gaakan goyah dan cari sana sini, krna udah kuat pondasinya, setidaknya untuk akidah.
Lalu ?
Kamis, 29 Agustus 2013
OSPEK Terakhir (nanti)
| gambar dari sini |
Saya senang bermain analogi. Yap, perumpamaan. Menurut saya, analogi bisa membuat suatu permasalahan/pernyataan yang rumit menjadi lebih mudah dipahami. Kali ini saya ingin bermain analogi OSPEK.
Kita (beberapa dari kita) pasti pernah mengalami Masa Orientasi atau OSPEK saat memasuki jenjang pendidikan baru yang lebih tinggi dari sebelumnya, sebut saja ospek SMP, SMA bahkan Universitas.
Tentu saat OSPEK kita tidak hanya diminta datang pagi2, tapi juga diberikan berbagai macam tugas yang harus kita selesaikan. Senior, si pemilik hajat tentu tidak mau tau alasan apapun dari junior yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan panitia OSPEK tersebut. Asal senior sudah memberikan tugas, mau tidak mau junior harus mengerjakannya tanpa alasan apapun. Ada banyak alasan yang biasanya diajukan. Beberapa diantaranya, junior tidak mengetahui tugas yang diberikan karena saat pemberian tugas hari H si junior tidak hadir, atau ada yang sudah mengerjakan tugas namun tidak sesuai kriteria tugas yang diberikan karena tidak bertanya kepada yang lebih tahu, dan berbagai macam alasan lainnya yang sudah pasti dapat cibiran dari senior si empu hajat.
Tag
agak serius,
agama,
artikel,
Islam
Kamis, 22 Agustus 2013
Sepatu untuk Ratna
| gambar dari sini |
"zah, mau ikut atau di rumah aja ? Ummi mau ke cijerah", tanya ummi yang menghampiriku di kamar abang saat sedang asyik menonton acara TV favoritku.
"ummi mau kemana ?", tanyaku seraya bangun dari tempat tidur.
"mau ke cijerah, beliin sepatu buat ratna, kalo mau ikut ayolah cepet, abi udah nunggu di depan, kelamaan keburu tutup pula tokonya", jawab ummi dengan sedikit nada melayu padangnya yang biasa digunakan saat sedang di rumah.
Sebenarnya aku malas beranjak dari tempat tidur dan berganti baju untuk ikut ummi keluar rumah. Namun mengingat sudah lama aku tidak ikut keluar malam bersama ummi abi hanya sekedar untuk mencari angin dan chitchat dengan mereka, akhirnya akupun memutuskan untuk ikut.
"mi tungguin, izah ikut aja ah", teriakku menjawab pertanyaan ummi yang tadi dilontarkannya padaku.
Segera aku mengambil 'senjata' untuk keluar rumah. Kuambil jilbab langsung merk ternama R yang berwarna merah, rok hitam yang kugantungkan di belakang pintu pun langsung kukenakan. Tidak lupa kaos kaki yang kusimpan didalam laci lemari ikut menjadi sasaran 'senjata' yang harus ikut dibawa, dan jaket adidas biru pemberian abangku juga dengan sigap aku ambil dari dalam lemari dan segera aku kenakan, cuaca cukup dingin diluar. Maklum, memasuki pukul 7 malam di bandung, suhunya sudah cukup tinggi, dan tidak lebay untuk menggunakan kaos kaki di dalam rumah.
Tag
agak serius,
ceritanya kuliah,
cerpen,
tulisan
Sabtu, 29 Juni 2013
Gajah Terbang
*disadur dari buku Berjalan di Atas Cahaya - Hanum Salsabila Rais
Saya menggeleng. Kembali saya kebingungan apa hubungannya gajah dengan kafe ?
| gambar dari sini |
"Kau tauhu cerita tentang gajah terbang, Hanum ?" tanya Xiao Wei tiba-tiba.
Saya menggeleng. Kembali saya kebingungan apa hubungannya gajah dengan kafe ?
"Bayangkan ketika di suatu jalan yang ramai, tiba-tiba seseorang berteriak lantang . 'Lihat! Ada gajah terbang di langit !' Semua orang mendongak tapi tak melihat apapun. Lalu orang tadi mengatakan, 'Ya Tuhan, apakah kalian punya penyakit mata atu bagaimana ? Masa gajah sebesar itu tdiak bisa kalian lihat ?'. Lalu, satu demi satu orang-orang mulai mengaku melihat si gajah dan ikut-ikutan berteriak lantang. 'Ya, aku melihatnya. Gajahnya berwarna putih.' Tak mau kalah, orang lain menambahkan, 'Ya Tuhan, lihatlah! Ada penunggang di atas gajah itu!'. Lalu orang-orang bersahut-sahutan bahwa mereka menyaksikan apa yang orang lain juga saksikan. Jika kau menjadi salah seorang yang berkerumun tadi, apa yang akan kaukatakan, Hanum ? "
Tag
agak serius,
artikel,
ceritanya kuliah,
opini,
pendapat
Jumat, 31 Mei 2013
Lebih dari Sekedar Perkara Hati
Bukan Cuma Masalah Hati
halo teman2 google plus , maaf mau nge alay lagi alias mau bikin status panjang yang bisa dibuat 'read more' hehehe
jadi hari ini saya menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan salah satu teman, sahabat saya. Entah kenapa, saya tidak pernah satu sekolah dengan sahabat saya ini, bertemu pun awalnya saat SMP, lalu bertemu lagi beberapa waktu yang lalu, tidak begitu lama dari hari ini. Tapi dalam pertemuan yang singkat dan cepat itu saya merasa cukup dekat dengan beliau, semoga ini yang disebut persahabatan dan persaudaraan karena iman. Why ? Tanpa perlu banyak bicara, saya udah merasa nyaman dengan sahabat saya ini, dan ... sevisi.
kembali ke niat awal, cerita tentang hikmah dari prosesi akadnya.
agak getek sih, ngomongin pernikahan, but gapapalah ya, udah gede juga kekeke :D
sebelumnya , dear Urfa, barakallahu lakuma wabaraka alaikuma wajamaa bainakuma fii khair yaa, sakinah mawaddah wa rahmah, barakah barakah barakah untuk rumah tangganya, amin :)
akadnya diadakan di mesjid PUSDAI (Pusat Dakwah Islam) Bandung, pukul 10.00 pagi.
Seperti biasa, sebelum dilaksanakan akad, disampaikan khutbah nikah terlebih dahulu. Khutbah nikah ini disampaikan oleh ustad Anis Matta. Ya, mungkin yang membaca ini sering mendengar nama/beritanya dari berbagai media, pun kalau tidak tahu saya tidak akan mengumbarnya, karena ketermungkinan suudzon untuk dilemparkan pada saya pasti ada.
Dalam waktu +- 15 menit ustad Anis Matta menyampaikan khutbahnya, ada beberapa hal menarik yang saya tangkap dari yang beliau sampaikan .
bahwa menikah bukan hanya urusan cinta dan hati semata, namun juga urusan membangun peradaban.
Menikah bukan hanya tentang bersatunya dua hati atas dasar cinta untuk membangun rumah tangga. Lebih dari itu, menikah itu tentang membangun peradaban.
Sabtu, 23 Maret 2013
Belajar
Saya harusnya bisa lebih banyak bersyukur , mengingat disekeliling saya adalah orang hebat semua .
Tidak perlu saya sebutkan siapa - siapa orangnya , tapi begitulah .
Mendapat pelajaran bahwa organisasi tidak seharusnya menjadi beban tanggung jawab utama, kuliah . Karena keduanya merupakan hal yang berbeda, tidak bertentangan dan justru(seharusnya) sejalan.
Mendapat pelajaran bahwa ruhiyah juga harus dijaga agar berefek pada tanggung jawab. Ruhiyah ? Ya, solat , sedekah, tilawah, dll. Efek ? Setidaknya untuk dirimu sendiri , jika lingkunganmu belum bisa merasakannya, but , ya setidaknya kamu berusaha .
Mendapat pelajaran bahwa tidak ada satu orang pun yang memiliki sifat dan karakteristik yang sama di dunia ini. So ? Perbaiki cara komunikasimu . Bukan, bukan dengan memperlakukan hal yang sama pada orang dengan anggapan km ingin diperlakukan seperti itu, tapi dengan cara orang tersebut ingin diperlakukan .
Mendapat pelajaran bahwa kamu harus terus apdet hati km , jangan biarkan dia membeku, apalagi menghitam dengan beberapa sifat buruk. Beruntunglah kalau kamu masih merasa 'tidak enak' saat akan melakukan hal yang buruk.
Mendapat pelajaran bahwa orang yang bermasa lalu buruk , tidak selalu bermasa depan buruk pula. Bahkan mungkin bisa lebih memandang dunia dengan bijak, karena dia sudah merasakan 'worst' nya.
Mendapat pelajaran bahwa, tidak ada yang bisa dilakukan secara instan. Kamu butuh proses. Proses itu tidak bisa sebentar, pasti lama. Hal lain yg kamu butuhkan ? Sabar . Sulit ? Bertahanlah, manisnya akan terasa di ujung.
Mendapat pelajaran bahwa lingkungan berpengaruh besar thd sikapmu. Kamu belum bisa menciptakan lingkungan kondusif untukmu ? Cari lingkungan itu, tapi saat sudah mampu menciptakannya, ciptakan dan sebarkan .
Mendapat pelajaran bahwa pemimpin memang tidak harus menangani hal-hal remeh. Tapi pemimpin yang baik pasti tetap memeriksa hal-hal yang dianggap remeh orang lain tsb dengan cara terjun langsung. Mengambil alih? Tidak, hanya memastikan dan memotivasi. Hasil ? Tidak ada bagian yang dianggap remeh dalam suatu tim.
Masih banyak pelajaran yang saya dapatkan dari banyak orang di sekitar saya akhir-akhir ini. Jangan penasaran ya kkkkk , insya Allah ntar di share lebih lanjut . Sekarang harus nyiapin fisik untuk hari esok , oyasumi :D
*btw sy sekarang lagi mumas, doain lancar ya mumasnya :D
Tidak perlu saya sebutkan siapa - siapa orangnya , tapi begitulah .
Mendapat pelajaran bahwa organisasi tidak seharusnya menjadi beban tanggung jawab utama, kuliah . Karena keduanya merupakan hal yang berbeda, tidak bertentangan dan justru(seharusnya) sejalan.
Mendapat pelajaran bahwa ruhiyah juga harus dijaga agar berefek pada tanggung jawab. Ruhiyah ? Ya, solat , sedekah, tilawah, dll. Efek ? Setidaknya untuk dirimu sendiri , jika lingkunganmu belum bisa merasakannya, but , ya setidaknya kamu berusaha .
Mendapat pelajaran bahwa tidak ada satu orang pun yang memiliki sifat dan karakteristik yang sama di dunia ini. So ? Perbaiki cara komunikasimu . Bukan, bukan dengan memperlakukan hal yang sama pada orang dengan anggapan km ingin diperlakukan seperti itu, tapi dengan cara orang tersebut ingin diperlakukan .
Mendapat pelajaran bahwa kamu harus terus apdet hati km , jangan biarkan dia membeku, apalagi menghitam dengan beberapa sifat buruk. Beruntunglah kalau kamu masih merasa 'tidak enak' saat akan melakukan hal yang buruk.
Mendapat pelajaran bahwa orang yang bermasa lalu buruk , tidak selalu bermasa depan buruk pula. Bahkan mungkin bisa lebih memandang dunia dengan bijak, karena dia sudah merasakan 'worst' nya.
Mendapat pelajaran bahwa, tidak ada yang bisa dilakukan secara instan. Kamu butuh proses. Proses itu tidak bisa sebentar, pasti lama. Hal lain yg kamu butuhkan ? Sabar . Sulit ? Bertahanlah, manisnya akan terasa di ujung.
Mendapat pelajaran bahwa lingkungan berpengaruh besar thd sikapmu. Kamu belum bisa menciptakan lingkungan kondusif untukmu ? Cari lingkungan itu, tapi saat sudah mampu menciptakannya, ciptakan dan sebarkan .
Mendapat pelajaran bahwa pemimpin memang tidak harus menangani hal-hal remeh. Tapi pemimpin yang baik pasti tetap memeriksa hal-hal yang dianggap remeh orang lain tsb dengan cara terjun langsung. Mengambil alih? Tidak, hanya memastikan dan memotivasi. Hasil ? Tidak ada bagian yang dianggap remeh dalam suatu tim.
Masih banyak pelajaran yang saya dapatkan dari banyak orang di sekitar saya akhir-akhir ini. Jangan penasaran ya kkkkk , insya Allah ntar di share lebih lanjut . Sekarang harus nyiapin fisik untuk hari esok , oyasumi :D
*btw sy sekarang lagi mumas, doain lancar ya mumasnya :D
Rabu, 23 Januari 2013
kunjungan mencengangkan :O *lebay
hasil hari senin kemaren ke SMAN 4 Bandung ngebujuk guru TIK buat ikut lomba dinamik 8 adalah :
me : pa, ikut CSPC aja lah biar gaulPa Can : pake bahasa apa ini ?
me : bahasa C sepertinya
Pa Can : ah nggak ah
me : ih kenapaa ?
Pa Can : ga ada yang pake C, kelas X pakenya pascal, kelas XI pake Java , beda lagi, lama lagi buat ngelatihnya ini kan bentar lagi
me : aaa aaa apah? pake java ? ah bapa bohong , pasti ga ngoding ya ?
Pa Can : eh beneran , ini contohnya *nunjukin hasil tugas anak2*
me : tuhkan bener ga ngoding, ga ada kodingannya kekeke , mana cik ?
Pa Can : yey ga percaya , nih liat *ngasih liat kodingannya
me : *pelongin kodingan, ada public class, private dan bahasa lainnya yg sperti dipelajari di java pada umumnya* glek
Pa Can : ini baru pertemuan pertama loh
me : *pelototin* *pundung* *merasa gagal menjadi mahasiswa tingkat 2 yg javanya (PBOnya) belum belajgini *bkin semacam ular makan makanannanny , yg jalannya random*
Pa Can : nanti di pertemuan 2 mau pake arrow jadi b kayak isa dimainin kayak game beneran
me : *pelongin* hiks T_T*
Pa Can : kenapa ?
me : akuh kalah sama anak SMA huaaa T_T
Pa Can : anak SMAN 4 aja lebih tepatnya
me : iya deh aku kalah sama anak SMAN 4 hufff
Pa Can : sok we balik lagi ke SMA
me : yakali pak umur gue pak -_-
Senin, 14 Januari 2013
refleksi menuju akhir
sedikit mendapat pukulan keras kemarin - kemarin dari twitnya salah seorang yang inspiratif tentunya , kurang lebih bunyinya seperti ini :
-sesungguhnya amal itu berdasarkan niatnya-
mari kita ambil contoh , ketika kamu belajar hanya untuk mengejar nilai tanpa mendapatkan ilmu dari yang sudah kamu pelajari , pernahkah merasakan itu ? ya , nilai yang tinggi tapi pemahaman yang nol , karena yang kita niatkan saat awal adalah mendapatkan nilai yang tinggi tidak dibarengi dengan mendapatkan pemahaman secara maksimal .
Sebaliknya, jika yang diniatkan adalah mendapatkan pemahaman secara maksimal, dibarengi dengan proses yang indah, tentu hasil berupa angka bukanlah hal yang besar, tidak menjadi permasalahan besar, pun kalau mendapatkan hasil yang besar tentu dengan kepuasan karena bonus dari pemahaman yang sudah didapatkan
senada dengan hal diatas, ketika BEM hanya untuk mengisi waktu luang dan menambah pengalaman, maka hanya itu yang akan kamu dapatkan
maka jangan sia-siakan kegiatan yang menyedot lelahmu tetapi hanya kau niatkan untuk dunia, sayang
perbaiki lagi niatnya aho ~
buatlah niat yang besar yang diiringi usaha yang giat
aho ya , fighting , banyak orang hebat looh di luar, kamu mau cuma jadi bagian yang nonton tanpa ikut bergabung ?
of course not , so starting now , no more laziness in your dictionary , tetap jaga kondisi ruhiyah , karena amal adalah konsekuensi dari iman , dan tidak ada kata terlambat untuk berubah ke arah lebih baik ;)
bismillah :D
#notetoself
ketika kamu meniatkan sesuatu sebesar itu, maka sebesar itulah yang akan kamu dapatkan
-sesungguhnya amal itu berdasarkan niatnya-
mari kita ambil contoh , ketika kamu belajar hanya untuk mengejar nilai tanpa mendapatkan ilmu dari yang sudah kamu pelajari , pernahkah merasakan itu ? ya , nilai yang tinggi tapi pemahaman yang nol , karena yang kita niatkan saat awal adalah mendapatkan nilai yang tinggi tidak dibarengi dengan mendapatkan pemahaman secara maksimal .
Sebaliknya, jika yang diniatkan adalah mendapatkan pemahaman secara maksimal, dibarengi dengan proses yang indah, tentu hasil berupa angka bukanlah hal yang besar, tidak menjadi permasalahan besar, pun kalau mendapatkan hasil yang besar tentu dengan kepuasan karena bonus dari pemahaman yang sudah didapatkan
senada dengan hal diatas, ketika BEM hanya untuk mengisi waktu luang dan menambah pengalaman, maka hanya itu yang akan kamu dapatkan
maka jangan sia-siakan kegiatan yang menyedot lelahmu tetapi hanya kau niatkan untuk dunia, sayang
perbaiki lagi niatnya aho ~
buatlah niat yang besar yang diiringi usaha yang giat
aho ya , fighting , banyak orang hebat looh di luar, kamu mau cuma jadi bagian yang nonton tanpa ikut bergabung ?
of course not , so starting now , no more laziness in your dictionary , tetap jaga kondisi ruhiyah , karena amal adalah konsekuensi dari iman , dan tidak ada kata terlambat untuk berubah ke arah lebih baik ;)
bismillah :D
#notetoself
Langganan:
Postingan (Atom)
