Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

CheatSheet



Al Qur'an itu cheatsheet hidup kita. Cheatsheet kalo kita lagi menghadapi ujian, tapi ujian tidak selalu dalam bentuk kesulitan, kemudahan juga merupakan ujian. How to pass those exams, cheatsheetnya ada dalam Al Qur'an.

Tapi, layaknya seorang teman, dia tidak akan memberikan cheatsheetnya kepada sembarang orang. Untuk mendapatkan rahasia dari seorang teman, kita harus sering berinteraksi dengannya, tidak hanya sekali dua kali, tidak hanya semenit dua menit, lalu dilupakan. Namun intens, sering, dalam jangka waktu yang panjang dan berkelanjutan, sehingga menjadi seorang sahabat yang apapun keadaannya kita akan bercerita pada mereka. Jika sudah menjadi sahabat, maka tanpa segan-segan akan diberikan rahasianya.

So does with Al Qur'an, untuk mendapatkan rahasianya dengan mudah, untuk mendapatkan cheatsheet agar melewati ujian yang Allah kasih, jadikan Al Qur'an sebagai sahabat. Sebagaimana sahabat, interaksinya begitu sering, tidak hanya ketika sedang sedih, namun setiap saat, sehingga akan dengan mudahnya sang sahabat memberikan rahasianya.

Catatan untuk diri yang masih belajar dan berusaha menjadikan Al Qur'an sebagai sahabatnya, sebagai teman sejatinya. Insya Allah.

Hasil melingkar hari ini, terima kasih teteh sayang, yang selalu mengingatkan diri ini yang masih sampah T.T

Senin, 30 Maret 2015

GGH & CCH


Ganteng-ganteng pinter ? udah biasa ~
Ganteng-ganteng kaya ? udah biasa juga ~
Ganteng-ganteng hafizh ? Gelz, ini baru luar biasa :p

GGH is stands for Ganteng-Ganteng Hafizh, then CCH stands for Cantik-Cantik Hafizhah :p

Berawal dari keisengan ngoprek HP abi, dan nemu video tentang hafizh dunia yang berasal dari negeri sakura, Jepang, dilanjutkanlah searching dari belahan dunia lainnya di youtube. Di video itu diceritakan kegiatan para anak muda yang berusaha untuk menghafalkan alqur'an di tengah kegiatan yang padat di negara yang bukan mayoritas muslim.

Sebenarnya video ini merupakan tayangan yang sudah pernah ditayangkan di televisi swasta Indonesia saat ramadhan lalu, dengan judul 'Hafizh Dunia', tayangan ini menampilkan hafizh dan hafizhah dari berbagai sudut dunia, tidak terkecuali di negara yang muslimnya merupakan minoritas.

Mungkin kita cek dulu video berikut ini :D


Minggu, 29 Maret 2015

Cemburu Menguras Pikiran

pinjem dari shutterstock :D

Selalu takjub mendengarkan, membaca, atau menyimak kisah teman-teman dalam menemukan jalan hijrahnya. Banyak tantangan dan rintangan yang harus mereka hadapi, namun mereka tetap bersikukuh untuk melaksanakannya, begitu kuat keinginannya untuk berubah ke arah lebih baik. 

Sebagai contoh, beberapa kisah beberapa teman untuk mengazzamkan diri untuk berjilbab, mulai dari jilbab yang biasa saja hingga jilbab syar'i yang memang betul-betul butuh keberanian diri untuk melakukannya cukup membuat saya cemburu. Cemburu pada apa ? Pada begitu kuatnya pencarian mereka, keinginan mereka untuk berubah, dan hebatnya mereka mampu melawan semua tantangan yang ada, yang saya tahu tentu tidaklah mudah. 

Ada yang saat memutuskan untuk berjilbab ia harus mengorbankan uang jajannya untuk membeli pakaian yang sesuai untuk bisa memenuhi syarat berjilbab, karena orang tuanya belum memberikan fasilitas itu. Atau ada juga yang mengorbankan hadiah ulang tahunnya dijual untuk membeli fasilitas agar bisa berjilbab. Mulai dari masalah finansial hingga masalah psikologis yang dihadapi tetap membuat mereka maju, bahkan cibiran dari kalangan keluarga pun tidak jarang datang menghampiri mereka dan mereka mampu menangkisnya.

"aku nangis ngegeter banget di angkot, waktu aku denger ceramah itu, yang bilang kalo jilbab itu wajib untuk semua remaja wanita yang udah baligh. Waktu itu aku kelas 3 SMP, langsung inget aja aku udah berapa tahun dari haid pertama sampe waktu hari aku ngedenger ceramah itu ga pake jilbab, rasanya dosa banget, kotor banget. Mulai saat itu pas aku pulang, aku bilang ke aa aku kalo aku mau pake jilbab. Tapi karena waktu itu udah kelas XII kan kagok kalo beli seragam panjang baru, jadi sama mamah disuruh nanti aja pas udah SMA, tapi aku nggak mau nambah-nambah dosa, untungnya ada aa yang bisa beliin dulu meskipun itu belinya pake uang jajan dia. Gila, aku juga nggak nyangka kenapa aku bisa nangis sampe ngegeter gitu di angkot waktu itu, padahal biasanya cuma angin lalu", salah satu cerita teman saya yang bisa dibilang cukup 'WOW' untuk mengisahkan awal mereka berjilbab saat itu waktu sharing di SMA.

"gue mah udah dijilbabin dari kecil, dari baru lahir kayaknya langsung dijilbabin jadi gatau deh rasanya nanggepin tantangan kayak kalian hehe", jawab saya saat itu ketika diminta giliran untuk bercerita dan disambut tertawa oleh sahabat-sahabat saya waktu itu.

Sambil tertawa sambil bertanya pada diri sendiri. "Gak ada hikmahnya banget zah dijilbabin dari kecil ? Meskipun kamu nggak punya pengalaman tantangan kayak mereka, harusnya kamu lebih bersyukur zah, karena jalannya udah dimudahin, tinggal cari hikmah lainnya lagi aja".

Pada satu poin saya merasa cemburu, iya, pada keinginan kuat mereka, pada bagaimana cara Allah mengetuk hati mereka agar berkeinginan kuat seperti itu, bagaimana mereka benar-benar percaya pada janji-Nya, takut pada murka-Nya, bukan pada marahnya ayah atau ibu mereka ketika mendapati anaknya tidak berjilbab. Tapi langsung takut pada murka dan bahagia mendapatkan cinta Sang Pencipta-Nya.

Dengan pengetahuan abal-abal ala remaja sok tau, saya berkesimpulan bahwa semangatnya mereka karena mereka menemukan sendiri hikmah untuk berubah ke arah lebih baik.  

Alhasil ?  Sempat memulai 'pencarian' hikmah yang ingin dirasakan. Mulai dari melepaskan rok berganti celana jeans, jilbab yang menutup dada dinaikkan sedikit demi sedikit, dll. Alhamdulillahnya Allah masih sayang dengan langsung memberikan hikmah-Nya tidak begitu jauh dari masa awal percobaan pencarian itu. Mulai diliputi rasa tidak nyaman jika jilbab yang digunakan tidak menutupi dada, perlahan diliputi rasa kurang nyaman jika menggunakan celana skinny jeans, dll.

Namun, seharusnya keadaan apapun tidak menjadikannya alasan untuk kurang bersyukur, karena mungkin bagaimanapun keadaan yang menurut orang tidak menyenangkan, justru menjadi mimpi dan harapan bagi orang lain untuk memiliki keadaan tersebut. 

Hanya baru satu contoh tentang hijrah untuk berjilbab, masih banyak hijrah lainnya yang juga berusaha berubah ke arah lebih baik yang membuat saya cemburu, seperti betapa semangatnya mereka untuk berdakwah, mengajak pada kebaikan, dll, sampai kalau boleh dibilang, semangat mereka sangat super.

Menjadi bahan refleksi diri untuk mencari ilmu sebanyak - banyaknya untuk mendapatkan hikmah bukan menyalahi keadaan yang sudah ada, tapi justru mensyukurinya. 


Islam memerdekakan akal, mendorong untuk mempelajari alam, menjunjung tinggi kedudukan ilmu dan ulama, dan menyambut yang baik dan bermanfaat dalam segala sesuatu. Karena hikmah adalah milik orang mukmin yang hilang, dimana saja ia menemukannya, maka dialah yang paling berhak mengambilnya.

So, hal pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan hikmah adalah menggunakan akal, membuka pikiran, jangan sempit lagi ya Faizah.

Tapi sepertinya Faizah berbuat kesalahan lagi, cepat perbaiki dan kembalilah HAHA. Aja aja fighting aho! 

Minggu, 19 Oktober 2014

The different is in the END

"Teh, teteh ngapain sih capek-capek kayak gini? Gak ada yang nyuruh, biaya apalagi, justru yang dikorbankan banyak, sangat banyak sekali, but WHY ? I neet that reason, WHY ?" 

pertanyaan yang terlontar di dalam hati, saat melihat teh Linda memimpin rapat Silaturahim Daerah Rohis Jawa Barat di koridor timur masjid Salman saat itu. Sangat ingin tentunya untuk melontarkan pertanyaan itu secara langsung kepadanya, namun untuk sesaat saya simpan. Akhirnya, tanpa melontarkan pertanyaan itu saya terus melaksanakan bagian sebagai pencari dana untuk kegiatan ini, meskipun pertanyaan itu tetap menyala dan seolah semakin hidup untuk ditanyakan kepada beliau.

Rapat ke sekian, lagi - lagi di koridor timur Salman, pertanyaan yang sama tetap hidup. Perasaan malu, deg degan, dan lain lain masih tetap saya simpan. Namun, pada saat yang sama, ada teman yang lain yang melontarkan keletihannya, saya rasa wajar. Namun saat teh Linda menjelaskan serta memberi semangat, justru yang saya dapat adalah jawaban atas pertanyaan saya sejak awal.

Ill write in my way ya. 

Kalaupun kita tidak membuat kegiatan ini, tidak membuat Silaturahim antar Rohis se Jabar, diluar sana tetap akan banyak kegiatan yang mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya. Yang bagian acara capek memikirkan konsep agar peserta tertarik ? Pun sama, diluaran sana yang membuat kegiatan yang mudharatnya lebih banyak pun sedang memikirkan konsep agar peserta tertarik datang. Yang bagian dana pesimis ketakutan mencari dana ? Siapa yang mau mendanai kegiatan ini ? Begitupun banyak kegiatan yang sedang direncanakan diluar sana. Dan lain lain untuk divisi lainnya. Tanpa kita membuat kegiatan ini, perang konsep, perang mencari dana, perang ideologi dan lain lain tetap terjadi di luar sana. Kita, istilahnya hanya ikut bertarung agar dana yang berseliweran di luar sana bisa lebih termanfaatkan ke kegiatan positif bukan sekedar hura-hura belaka. Jika yang mudharatnya lebih banyak saja Percaya Diri dengan kegiatannya, kenapa kita harus pesimis ? Ya, jalan ini, sekali lagi tidaklah mudah, tetapi bukan berarti kita harus mundur tanpa ikut bertarung. 

Untuk sesaat saya tersadarkan, akhirnya saya kembali lagi semangat untuk mencari dana.

Hingga suatu titik, saya merasa down, kenapa untuk kegiatan baik sangat sulit untuk mendapatkan dana. Bukan naif, tapi semua memang butuh uang.

Saya terdiam, termenung di suatu tempat, memperhatikan hiruk - pikuk orang lalu - lalang di hadapan saya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sibuk memikirkan untuk menyambung hidupnya. 

Saya sempat berpikir "segitu susahnya ya nyisihin rezeki untuk kegiatan yang baik, yang misalnya udah jelas kegiatan dan aliran dananya, tapi ketika untuk kesenangan dunia, tidak ada lagi yang dipikirkan, dana begitu saja tergulir".

Semua orang lelah untuk mencari dana untuk menyambungkan hidup.
Semua orang juga sama menghabiskan waktu yang banyak untuk mencari nafkah tersebut.
Semua orang juga kelelahan untuk melakukan hal tersebut.

Tapi ada yang dananya ia sumbangkan untuk sedekah, infaq, wakaf, dll.
Di sisi lain, juga tidak sedikit yang mentransfernya untuk kesenangan dunia, menuruti hawa nafsunya.

Tapi yang beda di akhirnya, kalau tahu tujuan di dunia ini.

Sama - sama capek, sama-sama habis waktu, sama-sama habis tenaga.
Yang satu capek, habis waktu, habis tenaga ngejar ke surga, yang lain capek, habis waktu, habis tenaga untuk ke neraka, naudzubillah.

Just yes, this is really NoteToMySelf, sangat catatan besar untuk saya pribadi.

Bukannya enggak boleh capek, ngabisin waktu, ngabisin tenaga di dunia, tapi tetep harus inget tujuannya, akhirat. Pada akhirnya, saya inget lagi kata teteh mentor "apa sih yang mau dicari, toh endingnya kita bakal mati. Bukan ngumpulin untuk didunia, tapi gunakan dunia untuk akhirat. Jadi ya kerja, capek, waktu dan tenaga yang habis, bukan untuk dunia, tapi untuk akhirat."

Bukan ngejudge siapa-siapa, atau pihak mana-mana, hanya untuk mengingatkan diri sendiri, for sure. Lebih tepatnya memotivasi diri sendiri. NO, Im not get motivate from another person. Just yeah, bermain dengan pikiran sendiri terdengar lebih asik. 

Thats, semangat H-4!




Minggu, 15 September 2013

Perempuan dan Kepastian

gambar dari sini


Kita (khususnya saya) sering sekali mendengar bahwa yang perempuan inginkan adalah sebuah kepastian. Entah itu dalam kasus apa, namun menurut saya dalam banyak kasus, dalam hal ini tidak melulu tentang hatinya, Pangeran mana yang nantinya akan memberikan kepastian padanya tanpa banyak kata.

Baru saja hari ini saya dan beberapa teman saya (lebih tepatnya teteh2) membicarakan tentang hal ini. Namun maaf kita tidak mengambil contoh masalah hati.

Teman-teman pasti pernah bekerja sama dalam hal apapun dengan perempuan, baik dalam hal kuliah, akademik, organisasi dll. Tau kenapa perempuan begitu cerewet ini itu ? Pasti ga jarang menemukan tipe perempuan yang cerewet seperti ini. Jawabannya simpel, hanya ingin kepastian.

Contoh kasus. Dalam suatu waktu di organisasi, si perempuan bertindak sebagai koordinator yang memiliki staff laki-laki dan perempuan. Oke kita ambil contoh kongkrit, anggaplah menjadi ketuplak dalam suatu kegiatan. Maka silahkan survey, perempuan ini akan menjadi sangat cerewet dan ingin serba pasti. Misalnya, sesuai timeline kita sudah memberikan deadline x dan y, maka saat tanggal itu yang si perempuan ini inginkan adalah x dan y itu sudah dikerjakan tanpa cacat.

Kamis, 29 Agustus 2013

OSPEK Terakhir (nanti)

gambar dari sini

Saya senang bermain analogi. Yap, perumpamaan. Menurut saya, analogi bisa membuat suatu permasalahan/pernyataan yang rumit menjadi lebih mudah dipahami. Kali ini saya ingin bermain analogi OSPEK.

Kita (beberapa dari kita) pasti pernah mengalami Masa Orientasi atau OSPEK saat memasuki jenjang pendidikan baru yang lebih tinggi dari sebelumnya, sebut saja ospek SMP, SMA bahkan Universitas.

Tentu saat OSPEK kita tidak hanya diminta datang pagi2, tapi juga diberikan berbagai macam tugas yang harus kita selesaikan. Senior, si pemilik hajat tentu tidak mau tau alasan apapun dari junior yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan panitia OSPEK tersebut. Asal senior sudah memberikan tugas, mau tidak mau junior harus mengerjakannya tanpa alasan apapun. Ada banyak alasan yang biasanya diajukan. Beberapa diantaranya, junior tidak mengetahui tugas yang diberikan karena saat pemberian tugas hari H si junior tidak hadir, atau ada yang sudah mengerjakan tugas namun tidak sesuai kriteria tugas yang diberikan karena tidak bertanya kepada yang lebih tahu, dan berbagai macam alasan lainnya yang sudah pasti dapat cibiran dari senior si empu hajat.

 
 
Copyright © [ notulensi ]
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com