"Teh, teteh ngapain sih capek-capek kayak gini? Gak ada yang nyuruh, biaya apalagi, justru yang dikorbankan banyak, sangat banyak sekali, but WHY ? I neet that reason, WHY ?"
pertanyaan yang terlontar di dalam hati, saat melihat teh Linda memimpin rapat Silaturahim Daerah Rohis Jawa Barat di koridor timur masjid Salman saat itu. Sangat ingin tentunya untuk melontarkan pertanyaan itu secara langsung kepadanya, namun untuk sesaat saya simpan. Akhirnya, tanpa melontarkan pertanyaan itu saya terus melaksanakan bagian sebagai pencari dana untuk kegiatan ini, meskipun pertanyaan itu tetap menyala dan seolah semakin hidup untuk ditanyakan kepada beliau.
Rapat ke sekian, lagi - lagi di koridor timur Salman, pertanyaan yang sama tetap hidup. Perasaan malu, deg degan, dan lain lain masih tetap saya simpan. Namun, pada saat yang sama, ada teman yang lain yang melontarkan keletihannya, saya rasa wajar. Namun saat teh Linda menjelaskan serta memberi semangat, justru yang saya dapat adalah jawaban atas pertanyaan saya sejak awal.
Ill write in my way ya.
Kalaupun kita tidak membuat kegiatan ini, tidak membuat Silaturahim antar Rohis se Jabar, diluar sana tetap akan banyak kegiatan yang mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya. Yang bagian acara capek memikirkan konsep agar peserta tertarik ? Pun sama, diluaran sana yang membuat kegiatan yang mudharatnya lebih banyak pun sedang memikirkan konsep agar peserta tertarik datang. Yang bagian dana pesimis ketakutan mencari dana ? Siapa yang mau mendanai kegiatan ini ? Begitupun banyak kegiatan yang sedang direncanakan diluar sana. Dan lain lain untuk divisi lainnya. Tanpa kita membuat kegiatan ini, perang konsep, perang mencari dana, perang ideologi dan lain lain tetap terjadi di luar sana. Kita, istilahnya hanya ikut bertarung agar dana yang berseliweran di luar sana bisa lebih termanfaatkan ke kegiatan positif bukan sekedar hura-hura belaka. Jika yang mudharatnya lebih banyak saja Percaya Diri dengan kegiatannya, kenapa kita harus pesimis ? Ya, jalan ini, sekali lagi tidaklah mudah, tetapi bukan berarti kita harus mundur tanpa ikut bertarung.
Untuk sesaat saya tersadarkan, akhirnya saya kembali lagi semangat untuk mencari dana.
Hingga suatu titik, saya merasa down, kenapa untuk kegiatan baik sangat sulit untuk mendapatkan dana. Bukan naif, tapi semua memang butuh uang.
Saya terdiam, termenung di suatu tempat, memperhatikan hiruk - pikuk orang lalu - lalang di hadapan saya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sibuk memikirkan untuk menyambung hidupnya.
Saya sempat berpikir "segitu susahnya ya nyisihin rezeki untuk kegiatan yang baik, yang misalnya udah jelas kegiatan dan aliran dananya, tapi ketika untuk kesenangan dunia, tidak ada lagi yang dipikirkan, dana begitu saja tergulir".
Semua orang lelah untuk mencari dana untuk menyambungkan hidup.
Semua orang juga sama menghabiskan waktu yang banyak untuk mencari nafkah tersebut.
Semua orang juga kelelahan untuk melakukan hal tersebut.
Tapi ada yang dananya ia sumbangkan untuk sedekah, infaq, wakaf, dll.
Di sisi lain, juga tidak sedikit yang mentransfernya untuk kesenangan dunia, menuruti hawa nafsunya.
Tapi yang beda di akhirnya, kalau tahu tujuan di dunia ini.
Sama - sama capek, sama-sama habis waktu, sama-sama habis tenaga.
Yang satu capek, habis waktu, habis tenaga ngejar ke surga, yang lain capek, habis waktu, habis tenaga untuk ke neraka, naudzubillah.
Just yes, this is really NoteToMySelf, sangat catatan besar untuk saya pribadi.
Bukannya enggak boleh capek, ngabisin waktu, ngabisin tenaga di dunia, tapi tetep harus inget tujuannya, akhirat. Pada akhirnya, saya inget lagi kata teteh mentor "apa sih yang mau dicari, toh endingnya kita bakal mati. Bukan ngumpulin untuk didunia, tapi gunakan dunia untuk akhirat. Jadi ya kerja, capek, waktu dan tenaga yang habis, bukan untuk dunia, tapi untuk akhirat."
Bukan ngejudge siapa-siapa, atau pihak mana-mana, hanya untuk mengingatkan diri sendiri, for sure. Lebih tepatnya memotivasi diri sendiri. NO, Im not get motivate from another person. Just yeah, bermain dengan pikiran sendiri terdengar lebih asik.
Thats, semangat H-4!
Tampilkan postingan dengan label analogi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analogi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Oktober 2014
Rabu, 18 Juni 2014
Bukan Musa dan Firaun
Dini hari tadi iseng buka tumblr yang udah lama ga ditengok , karena akhir-ahir ini keterbatasan kuota yang harus buka overmidnight. Ada sesuatu yang bikin mikir di notification activity nya.
Mamih Asysyifa Nurul Utami pernah ngepost ini dan nge tag saya . Untuk sesaat saya mikir "emang iya aku pernah ngetweet kayak gitu?" , akhirnya dengan iseng saya search di twitter saya sendiri, dan ternyata emang bener pernah ngetwit gitu, ini buktinya.
Terbang ke waktu saya ngetwit kayak gitu, tanggal 21 Desember yang lalu, Im quite sure saya nggak asal sembarangan ngetwit kayak gitu, theres something behind pastinya, dan somehow saat ini dibaca lagi terkesan jleb buat saya sendiri. akhirnya buka buku catetan, terbang ke tanggal itu di catetan adalah catetan JR tentang tafsir Quran surat Thaahaa.
Ada sedikit catetan yang saya tebalkan saat itu, tentang lemah lembut. Bunyinya mirip dengan yang saya twit, "karena aku tidak sebaik Musa dan kamu tidak sejahat Firaun".
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaahaa: 43-44)
Mamih Asysyifa Nurul Utami pernah ngepost ini dan nge tag saya . Untuk sesaat saya mikir "emang iya aku pernah ngetweet kayak gitu?" , akhirnya dengan iseng saya search di twitter saya sendiri, dan ternyata emang bener pernah ngetwit gitu, ini buktinya.
Terbang ke waktu saya ngetwit kayak gitu, tanggal 21 Desember yang lalu, Im quite sure saya nggak asal sembarangan ngetwit kayak gitu, theres something behind pastinya, dan somehow saat ini dibaca lagi terkesan jleb buat saya sendiri. akhirnya buka buku catetan, terbang ke tanggal itu di catetan adalah catetan JR tentang tafsir Quran surat Thaahaa.
Ada sedikit catetan yang saya tebalkan saat itu, tentang lemah lembut. Bunyinya mirip dengan yang saya twit, "karena aku tidak sebaik Musa dan kamu tidak sejahat Firaun".
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaahaa: 43-44)
Rabu, 05 Maret 2014
Analogi Deadliner
AHA ! LONG TIME NO SEE MY BLOG ! HAH HIH HUH BANGET KEGIATAN SEMESTER KEMAREN MULAI DARI KULIAH, TUBES SAMPE DINAMIK ! BIKIN SUSAH NAPASS
Ah Faizah suka lebay, tapi emang hectic, ah banyak alasan. Ah ih uh mulu, kapan nulisnya ? Baiklah, sekarang saya akan mulai nulisnya.
Seperti yang sudah kita tahu (kitaa ? lo aja kaliii zah) , iya seperti yang saya tahu tentang diri saya sendiri, bahwa saya senang sekali bermain analogi. Nah sekarang analogi apalagi yang terlintas sesaat yang akan segera dibeberkan ?
Analogi Deadliner.
Saya sendiri mengakui, saya merupakan seorang deadliner, procrastinator tingkat .... bisa dibilang tingkat akut lah ya, ini jelek loh ya temen-temen yang baca ga boleh ngikutin. Ini sebenernya penyakit yang tidak baik jika disimpan berlama-lama. Ayo sembuh!
Ah OOT lagi, ya jadi saya mau bahas deadliner. Analogi ini terlintas saat sedang mengerjakan TUBES (Tugas Besar) RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) dari dosen tercinta. Kita dikasih 1 tahun untuk mengerjakan tugas ini , diberikan tanggal 3 Desember 2013, dan harus dikumpulkan tanggal 3 Januari 2014, satu tahun kan ? Iya ajalah biar cepet.
Pada minggu awal mengerjakan tubes, yang kita lakukan adalah kunjugan ke instansi yang agaknya berkaitan dengan tubesnya, analisis kebutuhan, rancang database, dan merancang fitur2 tambahan untuk mempercantik tampilan si perangkat lunak, karena kita pakenya web based, kita udah ngerancang mau pake animasi apa saat tekan tombol sana sini (padahal programnya belum ada, bahkan prototype nya, aduh zah -,-)
Rencananya, sisa 3 minggu mau dipake buat ngoding. Itu sih rencana, pada kenyataannya karena ternyata di kelompok gue isinya procrastinator semua, kita baru ngerjain di 1 minggu terakhir. Ya bisa ajasih kalo sistemnya gak kompleks. Tapi eh tapi , yang diminta bapak dosen yang katanya dulu adalah pria idaman pada masanya, banyak banget spesifikasinya. Dan kita belum ngoding apapun dari awal. Udah kelimpungan aja kita. Ditambah lagi bapak dosen tercinta minta fitur ini itu yang mainin database, udah gitu dummy datanya enggak mau sedikit. Aduh mengingat waktu itu kepala mau pecah.
Sisa 1 minggu, 3 hari pertama kita masih belum fokus pada fungsi utama yang diminta bapak, kita masih mainin riasan untuk mempercantik si perangkat lunak. Baru pada sisa 3 hari terakhir kita nyadar, ini kebutuhan fungsionalnya belum ada yang bisa dijalankan. Alhasil, 3 hari terakhir tersebut kita bener-bener fokus pada kebutuhan fungsi. Sampai jam - 3 pengumpulan, kita masih main di dummy data yang dirasa kurang, dan saat dikumpulkan akhirnya kebutuhan fungsional seperti yang bapak yang katanya dulu pria idaman ini selesai, dan semuanya tersedia. Tapi eh tapi semua efek riasan yang sudah dirancang dari awal gak kepake brooh, kita ga sempet mainin jquery dll untuk mempercantik perangkat lunak kita. we got no time. Saat itu kita udah rada uring-uringan, karena yang lain mah cantik-cantik tugasnya, kita mah cuman pake css doang, yaudahlah pasrah *curhat*
Sampai akhirnya keluarlah nilai dari tubes RPL itu, sesuatu yang amazing, 3 hari tanpa tidur itu berbuah hasil yg subhanallah. Lalu si gue ekhem2 cek sana sini yang perangkat lunaknya cantik, saya pikir mereka dapet nilai yg bagus juga, berhubung keren. Eh tapi, ternyata mereka fungsi utamanya nggak semua jalan, jadi apa yg diminta bapak dosen nggak semua ada.
Disaat itu gue merasa bersyukur banget fokus di fungsi utama, walaupun telat nyadarnya baru h-3 pengumpulan dan ngerjain tanpa tidur, tapi kebutuhan fungsi utama yang diinginkan bapa semuanya adaaa hah hih huh.
Nah itu deadliner
Mari bandingkan dengan yang ngikutin timelinenya dengan benar.
Mungkin 1 minggu pertama analisisis, rancang database, bikin prototype dll. Dan jika mengikuti deadlinenya dengan benar, makan programnya yang dibuat dalam waktu 3 minggu sudah lengkap dengan kebutuhan fungsional ditambah riasan untuk mempercantik perangkat lunaknya. Ya gak heran, karena mereka masih punya banyak waktu untuk mempercantik, jangan dibandingin sama yang deadliner, udah syukur masih kebuat itu kebutuhan fungsionalnya *curhat lagi -_-*
analoginya apa zah ? mana analoginya ?
iye iye sabar
saya mau menganalogikan dengan *ekhm* pernikahan
Buat pribadi yang udah tau tujuan pernikahan itu apa, dia pasti fokus dengan tujuan. Kalu diibaratkan dengan ngerjain tubes itu tadi , dia fokus dengan 'kebutuhan fungsional' dari software tersebut. Mengikut semua alur timeline, mulai dari memperbaiki diri, dll. Dan akhirnya sampailah pada menyelesaikan tahap 'kebutuhan fungsional' , nah yang sudah selesai ini yang udah tau tujuannya yang dibilang mengalami akselerasi untuk menikah meskipun masih di usia muda.
Sedangkan yang deadliner, awalnya belum fokus pada tujuan atau 'kebutuhan fungsional' , masih asik bermain-main dengan hal-hal yang tidak terlalu vital walaupun menunjang. Pada suatu saat dia sudah capek dengan hal main-main itu barulah menyadari akan tujuan utama atau 'kebutuhan fungsional' nya itu, saat itu barulah dia fokus untuk mengejar itu. Telat ? Enggak, hanya saja berarti butuh waktu lagi untuk belajar ketertinggalan.
Lalu yang mengalami 'akselerasi' untuk tahap 'kebutuhan fungsional' kan sudah selesai nih dengan hal-hal vital, untuk hal-hal yang mendukunya bisa diibaratkan sebagai bonus.
Gausah dimisalkan lah ya, bisa lah dimisalkan tanpa dikasih contoh :p
AAK ini lagi - lagi analogi abal-abal yang dituliskan di blog ini, jangan percaya spenuhnya, percaya mah sama Allah aja heheheh. Semoga bermanfaat (semoga ada manfaatnya) , bye.
#night
Ah Faizah suka lebay, tapi emang hectic, ah banyak alasan. Ah ih uh mulu, kapan nulisnya ? Baiklah, sekarang saya akan mulai nulisnya.
Seperti yang sudah kita tahu (kitaa ? lo aja kaliii zah) , iya seperti yang saya tahu tentang diri saya sendiri, bahwa saya senang sekali bermain analogi. Nah sekarang analogi apalagi yang terlintas sesaat yang akan segera dibeberkan ?
Analogi Deadliner.
Saya sendiri mengakui, saya merupakan seorang deadliner, procrastinator tingkat .... bisa dibilang tingkat akut lah ya, ini jelek loh ya temen-temen yang baca ga boleh ngikutin. Ini sebenernya penyakit yang tidak baik jika disimpan berlama-lama. Ayo sembuh!
Ah OOT lagi, ya jadi saya mau bahas deadliner. Analogi ini terlintas saat sedang mengerjakan TUBES (Tugas Besar) RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) dari dosen tercinta. Kita dikasih 1 tahun untuk mengerjakan tugas ini , diberikan tanggal 3 Desember 2013, dan harus dikumpulkan tanggal 3 Januari 2014, satu tahun kan ? Iya ajalah biar cepet.
Pada minggu awal mengerjakan tubes, yang kita lakukan adalah kunjugan ke instansi yang agaknya berkaitan dengan tubesnya, analisis kebutuhan, rancang database, dan merancang fitur2 tambahan untuk mempercantik tampilan si perangkat lunak, karena kita pakenya web based, kita udah ngerancang mau pake animasi apa saat tekan tombol sana sini (padahal programnya belum ada, bahkan prototype nya, aduh zah -,-)
Rencananya, sisa 3 minggu mau dipake buat ngoding. Itu sih rencana, pada kenyataannya karena ternyata di kelompok gue isinya procrastinator semua, kita baru ngerjain di 1 minggu terakhir. Ya bisa ajasih kalo sistemnya gak kompleks. Tapi eh tapi , yang diminta bapak dosen yang katanya dulu adalah pria idaman pada masanya, banyak banget spesifikasinya. Dan kita belum ngoding apapun dari awal. Udah kelimpungan aja kita. Ditambah lagi bapak dosen tercinta minta fitur ini itu yang mainin database, udah gitu dummy datanya enggak mau sedikit. Aduh mengingat waktu itu kepala mau pecah.
Sisa 1 minggu, 3 hari pertama kita masih belum fokus pada fungsi utama yang diminta bapak, kita masih mainin riasan untuk mempercantik si perangkat lunak. Baru pada sisa 3 hari terakhir kita nyadar, ini kebutuhan fungsionalnya belum ada yang bisa dijalankan. Alhasil, 3 hari terakhir tersebut kita bener-bener fokus pada kebutuhan fungsi. Sampai jam - 3 pengumpulan, kita masih main di dummy data yang dirasa kurang, dan saat dikumpulkan akhirnya kebutuhan fungsional seperti yang bapak yang katanya dulu pria idaman ini selesai, dan semuanya tersedia. Tapi eh tapi semua efek riasan yang sudah dirancang dari awal gak kepake brooh, kita ga sempet mainin jquery dll untuk mempercantik perangkat lunak kita. we got no time. Saat itu kita udah rada uring-uringan, karena yang lain mah cantik-cantik tugasnya, kita mah cuman pake css doang, yaudahlah pasrah *curhat*
Sampai akhirnya keluarlah nilai dari tubes RPL itu, sesuatu yang amazing, 3 hari tanpa tidur itu berbuah hasil yg subhanallah. Lalu si gue ekhem2 cek sana sini yang perangkat lunaknya cantik, saya pikir mereka dapet nilai yg bagus juga, berhubung keren. Eh tapi, ternyata mereka fungsi utamanya nggak semua jalan, jadi apa yg diminta bapak dosen nggak semua ada.
Disaat itu gue merasa bersyukur banget fokus di fungsi utama, walaupun telat nyadarnya baru h-3 pengumpulan dan ngerjain tanpa tidur, tapi kebutuhan fungsi utama yang diinginkan bapa semuanya adaaa hah hih huh.
Nah itu deadliner
Mari bandingkan dengan yang ngikutin timelinenya dengan benar.
Mungkin 1 minggu pertama analisisis, rancang database, bikin prototype dll. Dan jika mengikuti deadlinenya dengan benar, makan programnya yang dibuat dalam waktu 3 minggu sudah lengkap dengan kebutuhan fungsional ditambah riasan untuk mempercantik perangkat lunaknya. Ya gak heran, karena mereka masih punya banyak waktu untuk mempercantik, jangan dibandingin sama yang deadliner, udah syukur masih kebuat itu kebutuhan fungsionalnya *curhat lagi -_-*
analoginya apa zah ? mana analoginya ?
iye iye sabar
saya mau menganalogikan dengan *ekhm* pernikahan
Buat pribadi yang udah tau tujuan pernikahan itu apa, dia pasti fokus dengan tujuan. Kalu diibaratkan dengan ngerjain tubes itu tadi , dia fokus dengan 'kebutuhan fungsional' dari software tersebut. Mengikut semua alur timeline, mulai dari memperbaiki diri, dll. Dan akhirnya sampailah pada menyelesaikan tahap 'kebutuhan fungsional' , nah yang sudah selesai ini yang udah tau tujuannya yang dibilang mengalami akselerasi untuk menikah meskipun masih di usia muda.
Sedangkan yang deadliner, awalnya belum fokus pada tujuan atau 'kebutuhan fungsional' , masih asik bermain-main dengan hal-hal yang tidak terlalu vital walaupun menunjang. Pada suatu saat dia sudah capek dengan hal main-main itu barulah menyadari akan tujuan utama atau 'kebutuhan fungsional' nya itu, saat itu barulah dia fokus untuk mengejar itu. Telat ? Enggak, hanya saja berarti butuh waktu lagi untuk belajar ketertinggalan.
Lalu yang mengalami 'akselerasi' untuk tahap 'kebutuhan fungsional' kan sudah selesai nih dengan hal-hal vital, untuk hal-hal yang mendukunya bisa diibaratkan sebagai bonus.
Gausah dimisalkan lah ya, bisa lah dimisalkan tanpa dikasih contoh :p
AAK ini lagi - lagi analogi abal-abal yang dituliskan di blog ini, jangan percaya spenuhnya, percaya mah sama Allah aja heheheh. Semoga bermanfaat (semoga ada manfaatnya) , bye.
#night
Tag
agak serius,
analogi,
ceritanya kuliah,
opini
Langganan:
Postingan (Atom)